iklan

iklan

Sepatu Merah Jambu



Sepatu Merah Jambu

ini cerita ku saat umur 5 tahun, aku terlahir dari keluarga pembuat sepatu, ayahku membuka sebuah usaha pembuatan sepatu hampir 3 tahun yang bertempat di kota Bandung. kami termasuk keluarga yang berkecukupan saat itu. aku mempunyai abah yang sangat perhatian kepada keluarganya dan ambu seorang wanita yang sederhana, siapa yang memandangnya akan merasa keteduhan di matanya, ambu sangat menyayangi anak-anaknya. kami ada 3 bersaudara, aku satu-satunya wanita dan anak pertama. aku sering manghabiskan waktu melihat abah membuat sepatu, waktu itu hanya ada 2 karyawan dan pak eman yang membantu usaha abah, pak eman orang yang paling dekat dengan keluarga kami, sudah 2 tahun pak eman tinggal dengan kami, semenjak kami mempunyai usaha sepatu ini, pak eman satu kampung dengan abah, ia datang meminta pekerjaan kepada abah dan membiarkannya tinggal bersama kami, pak eman adalah orang yang tidak banyak bicara, pak eman bertugas membuat tapak sepatu dan menjahit sepatu,, sedangkan abah membuat desain sepatu, kerangka sepatu, dan menyiapkan bahan terbaik pembuatan sepatu. aku selalu mengamati pekerjaan mereka. kami adalah keluarga yang sangat harmonis pada waktu itu. 
Saat makan siang, setelah selesai masak ambu langsung ke tempat pembuatan sepatu untuk menggantikan abah menjaga saung sepatu selagi abah dan karyawannya istirahat siang.Tempat pembuatan sepatu kami hanya 2 gang dari rumah, siang itu aku dan teman-teman bermain dihalaman rumah, aku melihat pak eman keluar rumah dengan terburu-buru dan agaknya ada yang disembunyikan, pak eman melihat ku dengan wajah yang tegang tanpa berkata apa apa kepadaku. Aku tak tau apa yang dilakukan pak eman di rumah sehingga dia seperti itu. Aku melihat abah pulang untuk makan siang seperti biasa, kali ini pak eman tidak ikut untuk makan siang bersama dengan abah. aku lari memanggil abah, abah menggendongku masuk kedalam rumah, abah mengajakku makan bersamanya. masak apa ambu hari ini yah, anak abah bantui ambu nya ndak hari ini, ya pasti lah bah,, yang bener itu anak abah yang geulis,, pasti anak abah ini sibuk main terus ya...udah makan belum anak gadis abah? "Abah, kenapa pak eman tidak ikut makan siang dengan abah?" .
pak eman lebih sibuk dari pada abah, jadi abah makan siang duluan saja "sambil melihatku". aku duduk disamping abah, abah selalu duduk di kursi utama meja makan, semuanya dipersiapkan oleh ambu, teh pahit dan piring tepat di meja abah, aku makan siang bersamanya, aku melihat ada yang berbeda di mata abah hari ini, sayu dan sendu. abah melihatku dengan tersenyum " oh iya abah baru ingat, anak abah yang mana yah, yang hari ulang tahunnya besok. ranti bah,,,ranti bah,,,aku melonjak lonjak kegirangan. Abah punya kado untuk Ranti, tapi besok abah kasih , ye...ye...ye...ranti punya kado dari abah...ranti punya kado dari abah. aku kegirangan "terimakasih abah ranti yang baik hati...". abah tertawa melihat tingkah ku.
Adzan dzuhur pun berkumandang, abah segera berwudhu mensucikan diri,, ranti ayo sholat dzuhur dengan abah,,aku pun bersiap untuk sholat dzuhur bersama sama dengan abah. setelah selesai sholat, aku kembali bermain dengan teman teman dihalaman, abah biasanya istirahat sambil tiduran dikamarnya dan kembali ke tempat pembuatan sepatu tepat pukul 14.00 wib.
aku bermain boneka-bonekaan dengan fitri sahabat ku,, Fitri...ranti mau ambil minum yah" ranti haus" . iyah ranti.
aku masuk kedalam rumah, ku lihat ada yang aneh dengan abah, tak ada ku dengar suara dengkuran abah sewaktu tidur, aku melihat ada busa busa yang keluar dari mulut abah, aku menggoyang goyangkan badan abah, dan memanggil manggil abah. tak ada reaksi abah. aku lari memanggil ambu di tempat pembuatan sepatu. Ambu....ambu...ambu...(aku teriak teriak memanggil ambu) ambu keluar dari saung dengan wajah heran dan penasaran..aya' naon ranti...kumaha atu jejeritan manggil ambu kayak gitu..ambu,,,abah, ambu,,abah. aya' naon abah teh..kan istirahat dirumah...ambu,, abah...dari mulutnya keluar busa...(nafas ku ter engah engah).  astagfirullahal'azim kenapa dengan abah kamu ranti...aku  dan ambu berlari menuju rumah. dirumah sudah ramai orang berdatangan dan sudah terpasang bendera kuning disana,,wajah ambu pucat saat masuk kedalam rumah, melihat abah tak bernafas lagi, ambu menjerit lalu menangis , "abah kenapa bah,,,kok jadi kayak gini bah,,ambu menangis...aku ikut menangis melihat ambu seperti itu,,melihat abah pucat pasih tak bernafas lagi. adik adik qu diantar oleh tetangga  dekat tempat pembuatan sepatu. adik ku yang hanya berjarak satu tahun dengan ku menarik narik baju ambu, menanyakan abah. ambu ..abah kenapa..ambu...aku memeluk adikku yang berumur satu tahun, dia menangis melihat keramaian orang orang dirumah.
aku melihat pak eman datang, dia duduk disamping ambu sambil memegang pundak ambu-"yang sabar teh,,saya turut bersedih, kenapa secepat ini dia dipanggil sama Yang Maha Kuasa, semua manusia akan kembali ke hariba'an Yang Maha Kuasa, karena sebaik-sebaiknya tempat ialah disisi Allah SWT." ambu tidak berkata apa apa, ambu menatap dalam dalam wajah abah yang telah kaku dan pucat.Aku masih tak percaya ,  yang terjadi saat ini semua seprti mimpi.
Setelah Abah dikebumikan,,,ambu terlihat sangat tertekan batinnya, ambu pingsan melihat jenazah abah di bawa untuk dikebumikan, saat sadar dari pingsan, ambu menangis lagi. "ambu" aku memeluk ambu berharap ambu tidak menagis lagi, "ambu jangan nangis lagi, ranti sedih ambu,,,ambu memelukku erat sambil menangis.
kemudian pak eman datang duduk disamping ambu," sudahlah teh, jangan ditangisi lagi kepergian abahnya anak-anak,,,masih ada pak eman disini bisa kok nemeni Ranti,Azwan,Amran (Azwan dan Amran adalah nama adik-adik ku). "Pak eman berusaha meraih ku untuk menggendongku, tapi ntah kenapa aku begitu benci dengan pak eman, ada sesuatu tersirat dari mata dan kata-katanya, aku menampis tangannya dan menyembunyikan wajahku di balik pelukan ibu. "ayi atu neng geulis, pak eman gendong, biar ambu istirahat dulu,,,pak eman berusaha membujukku aku tambah erat memeluk ambu." sudahlah pak eman, biarkan saja ranti disini dengan saya."(kata ambu).
Lalu pak eman pergi keluar ntah kemana, tetapi beberapa saat kemudian pak eman kembali lagi dengan membawa sebuah kotak sepatu, yang mungkin baru diambilnya dari tempat pembuatan sepatu kami. pak eman kembali duduk di dekat ambu dan menyodorkan kotak sepatu kepadaku. "ini neng geulis, "itu kado dari abah? (spontanku) Aku pun beranjak dari pelukkan ambu mengambil kotak sepatu itu, bukan neng geulis, ini khusus pak eman buatkan jauh-jauh hari untuk neng geulis ranti , kan neng ranti ulang tahun hari ini.
Aku tidak percaya pak eman yang membuatkannya untukku, aku yakin ini adalah kado dari abah yang telah di janjikannya 1 hari sebelum abah meninggal. Aku menerima kotak itu dan membukanya, ternyata sepasang sepatu merah jambu, sangat cantik sekali, pas di kaki ku. seharusnya abah yang memberikannya kepada ku. di hari ulang tahunku abah memberi ku 2 kado yang tak kusangka-sangka, Kepergiannya dan sepatu merah jambu terindah darinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar